Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Gua Batu Cermin, Seperti Berada di Negara Lain

gua-batu-cerminIni merupakan rangkaian cerita terakhir dari Conservacation yang sudah diceritakan sebelumnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, di hari terakhir ini, kegiatan lebih santai, para peserta diperbolehkan bangun siang karena aktivitas baru akan dimulai pada pukul 9 pagi waktu setempat.

Senangnya saya bisa bangun di hotel nyaman Labuan Bajo. Setelah selesai mandi dan beres-beres, saya langsung bergabung dengan teman lain yang sudah berada di restoran untuk sarapan pagi.

Meski pegal masih terasa, saya cukup menikmati aneka menu sarapan pagi itu. Seperti biasa, saya membuka sarapan dengan makan buah dan jus buah. Setelah itu dilanjutkan dengan makan bubur ketan hitam serta omelet. Kenyangnya pas, tidak terlalu kenyang dan tidak terlalu lapar juga. Perfect!

Tak berapa lama, panitia kemudian memanggil agar kami segera naik bus dan berangkat ke destinasi tempat wisata terakhir di Labuan Bajo sebelum pulang ke Jakarta. Mau ke mana kita? Ke Gua Batu Cermin.

Gua Batu Cermin, Seperti Berada di Musim Gugur

gua-batu-cerminSaya pikir untuk menuju Gua Batu Cermin yang merupakan salah satu alternatif wisata Indonesia di Labuan Bajo ini jaraknya cukup jauh, tapi ternyata cukup dekat dengan hotel tempat kami menginap sebelumnya sehingga tidak sampai satu jam, bus yang kami tumpangi tiba-tiba sudah sampai di parkiran lokasi wisata Gua Batu Cermin.

Sesampainya di sana, saya cukup kaget sih dengan kondisi di sekitar Gua Batu Cermin. Dalam pandangan saya sebelum sampai di lokasi, saya pikir yang namanya gua pasti tempatnya sejuk di kelilingi pepohonan. Namun itu berbeda ketika sampai di Gua Batu Cermin.

Memang sih di sekitar Gua Batu Cermin banyak tanaman, tetapi semuanya meranggas alias kering seperti sedang musim gugur. Bedanya, kalau di negara lain musim gugur itu mungkin sejuk ya (soalnya saya belum pernah ke negara lain saat musim gugur). Sedangkan di Gua Batu Cermin kondisinya cukup panas, bagi saya malah sangat panas dan gerah.

gua-batu-cermin

gua-batu-cerminLalu ada juga yang unik di sekitar Gua Batu Cermin ini, yaitu ada tanaman bambu yang memiliki duri. Jangan coba-coba deh mendekati atau berfoto dengan bambu berduri ini, nanti malah seperti teman saya, hanya demi menggapai sebuah foto nan cetar, akhirnya duri-duri bambu banyak menempel di pakaiannya.

Setelah mengamati kondisi di sekitar, pemandu membawa rombongan kami untuk mulai memasuki area gua. Gua Batu Cermin kondisinya cukup alami. Bentuknya yang menjulang tinggi dengan tumpukkan batu nan besar, membuatnya cukup merinding ketika dilihat terlalu lama.

gua-batu-cerminJika saya tidak salah menangkap informasi, dulu ini merupakan batuan karang lho, soalnya ditemukan beberapa fosil mirip ikan di sekitar dinding gua. Nah saya baru ingat dengan cerita sewaktu di Kupang yang katanya dulunya itu daratannya terendam laut tetapi kemudian menyusut sehingga meninggalkan batuan karang besar di daratan. Berarti cerita tersebut cocok ya, memang dulunya daratan yang terendam air laut lalu menyusut.

Untuk masuk ke gua ini tidak terlalu sulit. Saya pikir akan ala-ala petualang, ternyata para wisatawan dipermudah oleh pengelola setempat karena tersedia tangga untuk naik ke atas memasuki lorong gua.

gua-batu-cerminSaat berada di tempat yang lebih tinggi dengan menaiki tangga, suasana di sekitar gua mulai sejuk. Itu berkat batu menjulang tinggi yang menutupi langit-langit sehingga terjangan sinar matahari tidak terlalu terik. Kemudian melalui celah-celah bebatuan gua, angin bertiup semilir semakin membuat suhu di sekitar gua menjadi sejuk.

gua-batu-cerminNamun, rasa gerah dan agak pengap cukup terasa ketika kami memasuki mulut gua. Pengelola sudah menyediakan helm kepala sebagai pelindung untuk digunakan oleh wisatawan, maka ada baiknya agar menggunakan karena jalan yang dilalui ada beberapa yang mengharuskan wisatawan untuk berjongkok.

Seperti pada rute pertama di mulut gua, kami diharuskan jalan berjongkok beberapa meter (tidak terlalu panjang kok) karena memang mulut guanya cukup sempit. Setelah itu kami berhenti di satu titik yang katanya merupakan tempat batu cinta. Menurut mas guide yang menuntun, katanya bagi yang jomblo lalu menyentuh batu itu akan dipertemukan jodohnya, katanya lho ya. Saya tidak menyentuh soalnya memang tidak jomblo hehe.

Kami kemudian berjalan agak masuk lagi dan berhenti di sebuah batu bagian atas yang cukup besar. Menurut guidenya lagi, di batu tersebut ada fosil penyu yang menyatu dengan bebatuan karang tersebut. Dari jauh memang tidak terlihat, baru deh setelah saya mendekat memang seperti fosil penyu yang sudah lama menempel di batu karang itu.

gua-batu-cerminDari arah batu berfosil penyu tersebut, kemudian kami berjalan lagi ke titik yang disebut dengan batu cerminnya. Ternyata itu merupakan lorong sempit yang buntu dengan titik cahaya di atasnya. Cerminnya di mana? Cerminnya akan muncul pada musim penghujan yang mengisi lantai gua dengan air sehingga terlihat seperti pantulan cermin. Jadi saat kami di sana, tidak bisa melihat pantulan cerminnya karena sedang musim kemarau. CMIIW.

gua-batu-cermin

Posisi batu cermin bila dilihat dari bawah

gua-batu-cermin

Batu cermin apabila di lihat dari atas

Kami tidak berada lama di dalam gua, setelah sampai di titik batu cermin, kami langsung diajak untuk kembali mengikuti rute sebelumnya. Soalnya suhu di dalam agak pengap sekaligus sebagai cara agar bergantian dengan wisatawan lain yang akan masuk ke dalam gua.

Wisata di sekitar gua batu cermin sudah selesai, namun kami semua tidak langsung beranjak pulang karena ingin menikmati pemandangan di sekitar gua untuk berfoto ria. Setelah itu baru deh kami kembali ke dalam bus untuk beranjak pulang melalui Bandara Labuan Bajo.

Sama seperti keberangkataan sebelumnya, pesawat yang akan kami naiki adalah Garuda Indonesia. Bedanya, sebelumnya kami turun di Kupang, lalu naik pesawat ATR ke Ruteng, dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Labuan Bajo.

Nah kalau teman-teman ingin ke Gua Batu Cermin, maka dapat langsung memesan tiket pesawat ke Labuan Bajo saja kecuali memang ingin mampir dulu ke Kupang. Untuk memesan tiket pesawat ke Labuan Bajo cukup mudah. Teman-teman bisa memesannya di pegipegi.com yang tidak hanya menyediakan pemesanan tiket kereta, hotel, dan lain-lain, tetapi juga tiket pesawat.

pegipegiCukup dengan memasukkan lokasi yang akan dituju, teman-teman dapat memilih maskapai penerbangan yang akan membawa ke Labuan Bajo. Setelah itu ikuti saja langkah yang diberikan oleg Pegi-Pegi untuk pemesanan dan pembayaran.

Selamat berlibur ya, sampai jumpa dengan cerita petualangan saya selanjutnya.

Related Post

19 Comments

  1. Reply

    Hua, pohon bambunya kukira pohon salak karena berduri, hihi. Berani banget masuk gua pengap gitu ev. Aku takjub fosil penyunyaa

  2. Reply

    Duh kerennnnn serasa berada di Afrika suasana pepohonan yang mengeringnya. Goanya bikin penasaran nih.. Noted lah kalo main ke Labuan Bajo mesti main kesini juga nih

  3. Reply

    ngeri ngeri sedap juga ya berwisata didalam goa, apalagi kalo suasananya agak pengap…bisa sesak nafas aku mbak…
    tapi pohon2 kering disana yang bikin mupeng…

  4. Reply

    Perjalanan menuju goanya aja udah menarik. Banyak tempat yang instagramable buaahahaha. Tapi untuk goanya kayaknya goa Putri yang ada di Sumsel jauh lebih besar dan menarik ๐Ÿ˜€ walau gitu, jika ada kesempatan ke sini tentu nggak nolak juga hehehe

  5. Reply

    O, namanya Goa Batu Cermiiinnn.. sering lihat di Instagram foto-foto traveler di tangga goa itu. Cakep juga ya.
    Suasana meranggas memang bagus diabadikan, kayak lagi di mana gitu ya Mbak ๐Ÿ˜€

  6. Reply

    Loh,, ternyata ada cerminnya berupa air di dasar goa to. Aku dl jg kesana di bln Desember lho mbak, tp jg nggak ketemu cerminnya. Aku udah amaze dg cahaya yg masuk melalui celah batu. Indah banget.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *