Jalan-Jalan ke Singapore Part 2: Explore Kota sampai Malam

singapore

Setibanya di V Hotel di Lavender, saya langsung memasak pop mie dan istirahat. Kalau tidak salah, sekitar 30 menit saya bisa memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan ngantuk. Setelah itu baru deh shalat dzhuhur jamak ashar karena di sana jarang mushola dan langsung bergegas keluar hotel untuk menjelajah sendirian. Sendirian? Iya sendirian, soalnya mas Agus, pemenang yang satu lagi, mau istirahat untuk menyiapkan badannya supaya besok bisa puas seharian main di Universal Studio katanya. Tak mengapa sih jalan sendiri juga karena lebih berasa lagi aura petualangannya. Tapi solo traveling ala saya hanya berlangsung sebentar kok, soalnya di sore hari, saya bertemu dengan teman kuliah bernama Febri yang sudah lama bekerja di Singapore. Berikut adalah cerita keseruan mengeksplore Singapore sampai malam.

Belanja Oleh-Oleh di Bugis Street

Tempat yang akan saya tuju pertama kali setelah keluar dari hotel adalah Bugis Street untuk berbelanja oleh-oleh. Karena keesokan harinya saya bakalan seharian di Universal Studio dan lusa juga tidak memungkinkan lagi untuk hunting oleh-oleh, maka saya memutuskan untuk ke Bugis Street saja seperti saran Mbak Ratna. Thanks ya Mbak Ratna, sudah nemenin saya chit-chat untuk bertanya-tanya soal Singapore.

Oke untuk ke Bugis Streer saya kembali menggunakan MRT. Dari stasiun Lavender ternyata ke stasiun Bugis cukup dekat, hanya terpaut satu stasiun saja. Apalagi setelah keluar dari MRT, Bugis Street ada di depan mata, sangat dekat dan memudahkan.

bugis-street

Setelah keluar dari platform Bugis, saya langsung mengikuti orang-orang melangkah yang kebanyakan ingin ke Bugis Street juga. Bugis Street ada di seberang, saya langsung bergabung dengan kebanyakan orang yang sudah menunggu di tempat penyebrangan. Di sini tidak boleh nyebrang sembarangan harus menaati rambu lalu lintas.

Sesampainya di Bugis Street, saya langsung terpukau dengan jajanan serta produk yang ditawarkan, untung tidak gelap mata, jadi ‘gak kalap deh haha. Ada yang jual jus segar, aneka cemilan, produk-produk lucu, sampai oleh-oleh. Karena tujuan saya adalah membeli oleh-oleh, saya langsung saja deh ke toko yang menjual oleh-oleh. Ternyata ada banyak lho, saya sampai bingung memilihnya.

Saya tidak lama berada di Bugis Street, takut kalap. Setelah itu langsung hunting foto saja di sekitar sambil mengamati orang yang lalu lalang. Ini kebiasaan saya kalau berkunjung ke daerah atau negara lain, saya paling senang mengamati kebiasaan masyarakat setempat. Rasanya menarik saja untuk dinikmati, sampai saya tidak sadar kalau perut kelaparan.

singapore

Akhirnya setelah puas hunting foto dan mengamati keadaan di sekitar, saya langsung mojok di sebuah restoran fast food dan sukses menghabisi paket burger, kentang, es krim serta minumannya, lapar sangat. Baru deh saya kembali lagi ke MRT untuk melanjutkan perjalanan ke China Town.

Hunting Foto di China Town

Masih sesuai dengan saran dari Mbak Ratna, dari Bugis Street saya langsung ke China Town soalnya menurut Mbak Ratna di sana banyak spot foto kece untuk diabadikan. Benar juga lho setelah keluar dari MRTnya, saya sudah terpukau dengan corak bangunan kuno plus hiasan lampion ala adat China. Langsung saja deh saya mulai hunting foto memotret keadaan sekitar sambil berjalan ke arah keramaian yang ternyata di sana terdapat sebuah market kecil.

china-town

china-town

Jadi tempat tersebut berupa gang besar dan terdapat beberapa toko yang menawarkan jajanan murah meriah. Lampion tampak menghiasi area gang. Nah, ada satu sudut yang menarik perhatian saya yaitu deretan hiasan lampion yang diberikan gambar menarik. Rupanya itu hasil karya anak-anak sekolah yang mungkin sedang dilombakan. Ada tulisan di sana tidak boleh disentuh karena bisa saja rusak, jadi saya hanya memotretnya saja.

china-town

china-town

Setelah itu saya mulai jalan-jalan lagi di sekitarnya hingga ke ujung gang. Duh, sedih amat ya perasaan di sana cuma saya yang jalan sendirian hehe. Akhirnya saya memberanikan diri meminta salah seorang traveler perempuan untuk memotret saya di depan lampion, kan pingin masuk frame juga ceritanya hehe. Terima kasih ya mbak traveler yang saya lupa menyakan siapa namanya. Setelah itu saya langsung berjalan lagi untuk kembali ke MRT mengingat hari semakin sore.

Niatnya, saya ingin kembali ke hotel dulu untuk beristirahat dan membersihkan diri baru kemudian nanti keluar saat malam untuk bertemu dengan Febri. Tapi rencana berubah karena menurut Febri lebih baik bertemu di Stasiun Raffles saja untuk memanfaatkan waktu. Saya langsung mengiyakan saja karena memang tidak menjadi masalah.

Terpukau Keindahan Merlion Park

Akhirnya ketemu juga deh sama Febri di Stasiun Raffles. Febri tampak langsing, sementara saya mmmm gak usah ditanya deh haha. Dari Stasiun Raffles, Febri langsung mengajak saya keluar dari area MRT. Ternyata di sini tho letak Merlion Park dan menurut Febri, lokasi ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan karena ada semacam tugu pahatan yang menggambarkan Singapore serta hotel tua di sana. Apalagi pemandangan di sekitar juga keren banget berupa bangunan pencakar langit pertanda sebuah negara maju.

singapore

Febri terus mengajak saya untuk berjalan di trotoar yang bersih dan ramah pejalan kaki. Saking ramahnya, si Febri mengajak saya untuk berfoto saat menyebrang jalan (jangan ditiru ya haha) padahal saya menjaga sikap supaya disiplin, eh malah ditawari narsis saat menyebrang, jadi ya sayang untuk dilewatkan *cape deh.

Setelah menyebrang jalan, patung singa yang iconic tersebut sudah terlihat di depan mata saya. Di sana banyak sekali wisatawan yang mengatri berfoto di patung singa, soalnya seperti tidak afdol kalau ke Singapore tapi tidak berfoto di sana.

merlion-park

Habis berfoto di patung singa, langsung aja deh menghadap ke sisi lainnya karena di sisi yang tegak lurus dengan patung singa ada Garden by The Bay yang dapat dilihat dari kejauhan. Terus nih bergeser ke sisi sebrang ada bangunan berbentuk durian yang tak kalah menarik juga untuk diabadikan. Pokoknya mau foto di sisi mana aja keren deh. Ini saat masih sore lho ya, apalagi nanti kalau lampu-lampu sudah menyala.

Sambil menunggu malam untuk melihat keindahan Merlion Park, Febri mengajak saya untuk ngopi cantik di Coffeebean sambil bercerita ngapain aja sih dia di sana. Febri adalah teman kuliah saya, setelah lulus kami tidak pernah bertemu lagi. Saya tau kalau Febri bekerja lama di Singapore dan syukur alhamdulillah tahun 2017 bisa ke tempat Febri berada. Rasanya bertemu teman di negara lain itu bahagia banget seperti bertemu saudara sendiri lho. Saking bahagianya kami saat itu, tak terasa kalau hari sudah malam. Kami langsung bergegas keluar untuk menyaksikan gemerlap Singapore di malam hari.

merlion-park

Setelah keluar dari Coffebean yang ada di gedung berbentuk durian itu, saya langsung terpukau dengan gemerlap cahaya lampu yang menghiasi Merlion Park. Sama seperti tadi sore, mau berfoto di sisi sebelah manapun sama bagusnya lho, saya sampai kebingungan memilih spot karena semuanya keren menurut saya *norak deh.

Terus dalam hati saya berpikir, gimana caranya Singapore mencukupi kebutuhan listriknya ya? soalnya lampu menyala dari ujung ke ujung membuat negara ini sangat terang dan gemerlap di malam hari. Ada yang tau jawabannya? Menurut Febri, di Singapore jarang banget yang namanya mati listrik, terus energi itu dari mana semua ya?. Febri juga tidak tau banyak dan akhirnya mengajak saya untuk berpindah tempat daripada memikirkan itu semua.

Menikmati Keindahan Garden by the Bay

Dari Merlion Park, saya dan Febri berjalan lagi ke arah MRT berada untuk melanjutkan exploring Singapore di malam hari. Tujuan selanjutnya adalah Garden by The Bay yang tak kalah keren dari Merlion Park. Dari Raffles seingat saya harus dua kali naik MRT, cuma saya agak lupa turun di mana, soalnya waktu itu buru-buru banget sih, nanti googling saja ya *ini gak niat cerita ya.

Di MRT terakhir ada lorong yang asik buat foto-foto, saya dan Febri adalah dua orang yang memanfaatkan lorong tersebut, sementara orang lain lalu-lalang di sana. Asiknya jalan sama Febri ya gini, suka foto juga jadi klop deh.

singapore

Seperti di Merlion Park tadi, setelah keluar dari MRT, saya kembali terpukau dengan pemandangan di sekitar Garden by the Bay yang penuh dengan hiasan lampu warna-warni. Serius deh kalau mengajak anak kecil ke sini pasti senang banget. Soalnya orang dewasa saja senang apalagi mereka.

garden by the bay

garden by the bay

Namanya juga garden, pasti bentuknya seperti kebun dan taman ya, hanya saja lebih attractive lagi. Saya dan Febri tiba di suatu area yang membuat semua orang terpukau ketika menengadahkan wajah ke atas. Rupanya pertunjukan lampu yang bergerak sesuai irama musik sudah dimulai. Sama seperti wisatawan lainnya yang merebahkan tubuh ke lantai, saya dan Febri juga mengikuti untuk menikmati suasana yang ada, indah banget pokoknya.

garden by the bay

garden by the bay

Setelah puas menikmati keindahan permainan lampu yang diiringi musik, saya mengajak Febri untuk pulang saja karena sudah mengantuk dan kelelahan. Apalagi besok saya harus ke Universal Studio yang membutuhkan stamina lebih banyak lagi. Sayang soalnya sudah jauh-jauh ke Universal Studio tapi tidak menikmati kan?.

Untuk Febri, terima kasih ya sudah menemani sore hingga malam di Singapore kemarin. Walaupun bertemunya hanya sebentar tapi seru juga kan?. Untuk part ketiga, saya akan bercerita tentang keseruan selama menjajal wahana di Universal Studo ya teman-teman. Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan ini.

Related Post

5 Comments

  1. Reply

    sendirian jejalan enak bener ya mbak, memang rasanya kayak petualang gitu, hihi

    tapi kalau pergi sendiri ga ada yang foto in, kita cuma foto objek nya aja

  2. Pingback: Jalan-Jalan ke Singapore (Part 3): Universal Studio Singapore

  3. Reply

    Sejauh ini gak menemukan photo selfienya Mbak Evrina lohh di postingan ini. hhee Padahal pemandangan di Singapura itu, cuantiikkk, aku juga suka liatin gambarnya mbak, ikutan sneng. kapan bisa sampe sana, hheeee

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *