Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Narsis di Museum Macan Edisi Yayoi Kusama

museum-macan-yayoi-kusama

Ceritanya di awal Agustus 2018 lalu, saya bersama Mbak Liana bermaksud memenuhi undangan Dewaweb, salah satu penyedia hosting di Indonesia, untuk mengambil hadiah. Hadiah ini merupakan apresiasi dari Lomba Blog yang digelar oleh Dewaweb pada bulan sebelumnya. Saya pikir setelah prosesi penyerahan hadiah selesai, berarti saya bisa langsung pulang ke rumah mengingat hari juga semakin sore. Tapi ternyata, acara tidak selesai di situ saja karena Pak Edy, owner Dewaweb, mengajak saya dan Mbak Liana untuk menghabiskan hari di Museum Macan yang letaknya berada di satu gedung dengan Dewaweb.

Wow saya senang sekali karena sudah lama banget saya ingin pergi ke Museum Macan. Dan ternyata doa saya dikabulkan oleh Allah swt melalui Dewaweb, Alhamdulillah. Tanpa berpikir panjang, saya dan Mbak Liana langsung meluncur ke Museum Macan dengan didampingi oleh Bapak Edy. Luar biasa Bapak Edy sangat humble, Beliau mengantar kami sampai ke pintu masuk. Terima kasih banyak ya pak.

Oh iya, kebetulan di Museum Macan saat itu sedang berlangsung pameran karya Yayoi Kusuma. Pameran ini sudah ada sejak 12 Mei 2018 lalu dan berakhir di 9 September 2018.

museum-macan-yayoi-kusama 2

Saya dan Liana

Sewaktu kami hendak masuk ke dalam museum, kami ditahan terlebih dahulu oleh penjaga karena tidak boleh membawa tas termasuk makan minum ke dalam museum. Kami juga tidak diperbolehkan membawa kamera digital, yang diperbolehkan hanya smartphone saja untuk berfoto. Barang bawaan tersebut dapat disimpan pada penitipan yang tidak jauh dari pintu masuk. Setelah selesai menitipkan barang, kami berdua langsung masuk ke dalam arena museum berisi karya Yayoi Kusama.

Ada Apa Saja di Museum Macan Yayoi Kusama?

Sejak menginjakkan kaki di area museum saya langsung berpikir kalau Yayoi Kusama ini sangat menyukai bentuk polkadot. Hal ini terlihat dari karyanya meski berupa bentuk bunga, gambar polkadot tetap ada di benda tersebut.

Karya pertama yang menarik perhatian saya adalah Dots Obsession yang berupa balon besar kuning dengan polkadot hitam. Saya rada tidak mengerti maksudnya apa, tetapi saya cukup menikmati karena warnanya cerah meski terkadang agak pusing ketika melihat terlalu lama.

museum-macan-yayoi-kusama 3

Di dekat balon besar tersebut, ada Infinity Mirrored Room yang merupakan ruangan berkaca dengan balon kuning polkadot berukuran kecil. Cukup menyenangkan berada di sini, asal jangan terlalu lama karena akan pusing jadinya. Pengunjung dibatasi untuk berada 1 menit saja di dalam ruangan tersebut untuk mencegah pusing sekaligus agar bergantian dengan yang lain. Kalau masih belum puas, pengunjung dapat mengantri lagi di belakang.

museum-macan-yayoi-kusama 4

Dari sana, kami melanjutkan eksplorasi ke Narcissus Garden. Spot ini berisi balon perak yang dapat memantulkan gambar apabila kita mendekat ke balon tersebut. Rasanya saya ingin sekali berada di antara balon tersebut, sayangnya hanya Yayoi Kusama yang boleh melakukan hal tersebut. Pengunjung cukup menikmati karya seninya saja.

Di sekitar Narcissus Garden, ada banyak karya seni Yayoi Kusama yang terbingkai. Bentuknya abstrak seperti jaring yang lagi-lagi saya tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi saya yakin, membuat pola seperti itu sangatlah sulit karena butuh konsistensi serta kesabaran.

museum-macan-yayoi-kusama 5

Tak jauh dari situ, kami kemudian masuk ke ruangan bertajuk The Spirits of The Pumpkins Decended Into The Heavens. Ruangan ini berupa polkadot hitam dengan background kuning di segala sisi. Di tengahnya ada sebuah bangunan berbentuk kubus yang diselimuti oleh kaca. Di dalam kubus itu ada kaca lagi yang membuatnya seolah-olah sangat infinity. Jangan lama-lama deh di sini, nanti pusing seperti saya karena polkadot ada di mana-mana.

museum-macan-yayoi-kusama 6

Perjalanan masih berlanjut, kali ini kami masuk ke arena black and white bertajuk Love Forever. Kalau tadi terlalu banyak warna yang ngejreng, di area ini cukup menyejukkan mata berkat warnanya yang lebih soft yaitu hitam dan putih. Karyanya juga lebih mudah saya mengerti ketimbang hanya polkadot saja karena sudah mulai terbentuk polanya.

Nah, di area tersebut terdapat bangunan kubus lagi yang di dalamnya masih terdapat kaca. Bangunan tersebut dinamakan I Want to Love on The Festival Night. Sesuai dengan judulnya festival night, otomatis terdapat warna-warni lampu di dalamnya yang memuat pola cukup menarik. Saya dan Mbak Liana sampai harus mencari waktu yang tepat untuk mendapatkan pola dari pancaran lampu yang diinginkan.

museum-macan-yayoi-kusama 7

Lanjut lagi ya, setelah dari sana, kami masuk ke ruangan dengan hasil karya yang warna-warni tetapi tidak memusingkan karena tersusun indah seperti pelangi. Polanya masih menggunakan polkadot namun dengan campuran warna-warni sehingga terlihat lebih indah.

Akhirnya kami tiba di penghujung area museum, tetapi sebelum keluar kami masuk dulu ke bangunan kubus lagi yang lebih besar bertajuk Infinity Mirrored Room-Brilliance of The Souls. Nah ini yang banyak berseliweran di instagram, ternyata bangunannya berupa ruangan kubus dengan kaca di segala sisi. Seru banget berada di dalam sana, rasanya seperti sedang terbang di angkasa malam. Amazing! Applause banget untuk Yayoi Kusama.

museum-macan-yayoi-kusama 8

Saya pikir pamerannya cukup sampai di situ saja, tapi ternyata masih ada satu ruangan lagi di lantai dua. Nama karya yang disuguhkan oleh Yayoi Kusama adalah The Obliteration Room. Awalnya ruangan ini semuanya putih bersih sampai ke perabotannya. Tetapi Yayoi Kusama mengajak pengunjung untuk mewarnai ruangan tersebut dengan menempelkan stiker polkadot warna-warni. Seru juga ya dan idenya brilliant. Dia tidak perlu lelah mewarnai karyanya tersebut, biarkan pengunjung yang memberikan warna pada karyanya. Tetapi sekali lagi, saya tidak kuat terlalu lama di dalam, pusing banget secara warna-warni polkadotnya sangat ngejreng.

museum-macan-yayoi-kusama 9

Demikian cerita saya dan Mbak Liana ketika mengunjungi Museum Macan yang berbeda dari konsep museum pada umumnya. Pada saat tulisan ini diterbitkan, teman-teman masih memiliki kesempatan mengunjungi Museum Macan dengan karya Yayoi Kusama hingga 9 September 2018. Jangan sampai ketinggalan ya!.

22 Comments

  1. Reply

    Assalaamu’alaikum Mbak,

    Aduh aku mah ngebayanginnya aja udah pusing, apalagi masuk ke sana ya! Haha.. Unik banget ya, tapi kalau yang gampang pusing gak cocok kayanya, hehe..

  2. Reply

    Desainnya dominan bulat-bulat mingkin idenya dari totol macan kali ya …, makanya dinamakan museum macan, meski ngga ada macan beneran disana ๐Ÿ˜

  3. Reply

    Pas kesana waktunya itu kaya di buru setan, semuanya di timing,, Memang cocok buat pecinta seni dan yang ngerti, klo aku mah cuma jepret doang

  4. Reply

    Aku tahu dan bisa menikmati museum macam ini pas baca tulisan Idris, owner ngayap.com.
    Eh, tuh dia orangnya nongol di sini.
    Kalau aku suka banget nih karya yang unik gini.
    Tapi karena domisili Balikpapan, aku menikmati via tulisan blogger-blogger kece ini saja dulu lah :).

  5. Reply

    Kayaknya musem macan ini jadi primadona banget ya kak.
    Tapi bagus sih emang, kreatif banget dan instagramable. Hehehe ๐Ÿ˜€

  6. Reply

    Kalau menurutku, kadang karya seni visual itu nggak perlu ada artinya, bisa jadi cuma sebatas inspirasi senimannya. Mungkin, ya ๐Ÿ™‚

    MACAN ini cocok deh buat ilusi optik xD

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *