Petualangan Merbabu: Jakarta-Selo

Percakapan di Grup Elang Adventures:

“Gue rela beli Go Pro demi ke Merbabu”

“Om Wilson kameranya wajib dibawa ya”

“Yang bawa tenda siapa aja?”

“Teman-teman jangan lupa bawa beras masing-masing satu gelas ya”

“Besok gue tetap dateng, kangen kalian banget soalnya”

Menjelang keberangkatan ke Semarang, grup Whatsapp Tim Elang sudah mulai ramai. Saya hanya bisa memantau saja karena memang hingga H-2 saya masih harus focus mempersiapkan lomba kelompok. Hasilnya tau sendiri deh, bisa dilihat di sini. Nah, pergi ke Merbabu sangat cocok untuk memompa semangat kembali. Di sana saya bisa bertemu dengan teman-teman, melatih mental dan naluri survival, yang jelas segala penat dan jenuh akan terlepas ketika kita berada di alam terbuka. Dan inilah kisah kami pada saat berpetualang bersama di Gunung pemilik sabana nan Indah: Gunung Merbabu.

Kami akan berangkat ke Semarang pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2015 dengan meeting point di Stasiun Senen Jakarta. Tim Timur yang terdiri dari Aris, Devi dan Rizki berangkat dari Bali, kemudian ke Malang lalu mampir ke Tuban untuk takziah ke rumah teman kami Yunita yang sedang dirundung duka lantaran ayahanda tercinta berpulang ke Rahmatullah. Semoga Beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.

Hari H telah tiba, kondisi badan saya sedang tidak fit. Rasanya kalau mau mendaki, saya mesti terkena flu. Saya sudah janjian dengan Tim Bogor yang terdiri dari Iqbal, Dwi dan Bintar untuk bertemu di Gondangdia. Rasanya aneh nih, naik Commuter Line (CL) sambil membawa carrier, jadi deh semua mata tertuju pada mu hehe. Beruntung saya segera bertemu Tim Bogor di Gondangdia, jadi tidak merasa aneh sendiri.

Selepas sampai di Stasiun Senen, kami segera merapat ke tempat meeting point dekat dengan Alfamart dan Es Teller 77 yang merupakan tempat kenangan ketika ke Semeru dua bulan yang lalu. Di sana kami bertemu duo nge-nge yang tak terpisahkan yaitu Kamil dan Wahyu. Menyusul kemudian ada Eko dan Mbak Renta. Mbak Renta tidak bis aikut lantaran sedang kurang fit, tetapi dia tetap datang karena katanya sudah kangen berat sama anak-anak elang. Tak lama kemudian Om Wilson datang, wah Om Wilson segar bugar, tak lupa dia membawa kamera DSLRnya yang bakalan jadi tumpangan untuk bernarsis ria nanti. Nah, ini yang ditunggu-tunggu, akhirnya bu ketua datang, Mbak Weyna dan tiga orang temannya yang merupakan pendaki profesional. Mbak Weyna datang membawa kardus yang isinya tenda, nesting, kompor dan perintilan lainnya. Benar-benar bu ketu deh, mau berkorban buat anak buahnya hehe.

tim elang

Kiri ke kanan: saya si evrina, wahyu yang keliatan kurusan, iqbal yang keliatan lebih subur, kamil yang sama aja, Dwi yang imut, Mbak Renta yang sedang memulihkan badannya, Bintar penghuni baru, tim elang yang lain masih on the way

Kereta Kertajaya sudah datang, kami semua langsung menyerbu masuk  menuju Gerbong 8 paling belakang. Tempat duduk kami berdekatan jadi sangat berisik deh di kereta. Saya mengucapkan belasungkawa untuk penumpang lainnya karena bagasi atas sudah habis dipenuhi carrier. Iya gerbong 8 ini seolah jadi gerbongnya para pendaki karena hampir seluruh gerbong terisi dengan carrier. Penumpang biasa yang tak tau apa-apa hanya bisa celingukan. Maaf ya pak maaf ya ibu, solanya kalau carrier diletakan di bawah bisa menuhin kereta deh hehe.

Untuk mengisi waktu, em Yiyi, Kamil, Wahyu dan Bintar bermain gaplek. Tapi tau tidak? ternyata itu ‘gak boleh lho walaupun tidak ada praktek perjudian. Akhirnya lapak itu ditutup deh. Mending kita tidur saja untuk mengumpulkan tenaga karena besok pagi kita langsung berangkat hiking setibanya di Selo.

kertajaya

Bagasi atas yang isinya carrier semua

kertajaya

Main gaplek bikin ketawa ketiwi, mas-mas yang di samping sampai ikutan nyengir padahal kita gak kenal hehe

kertajaya

Tim elang di Kertajaya, narsis abis

Sekitar pukul 21:00 kami sudah tiba di Stasiun Tawang Semarang. Jangan lupa foto-foto dulu, maklumlah kami pendaki narsis nan manis *dilempar kacang*. Di pintu Barat sudah ada Tim Timur yang menunggu. Tim Timur sudah tiba terlebih dahulu di Semarang pada pukul 4 sore. Untuk mengisi waktu mereka halan-halan dulu di Lawang Sewu *ampun deh saya udah berapa kali balik ke Semarang tapi belum pernah juga ke Lawang Sewu, ini yang dari Bali malah sudah masuk ckckckck*. Terus katanya mereka makan dulu deh Simpang Lima. Tadinya kami juga mau negitu, tetapi karena waktunya mefet, akhirnya ikutan aja deh arahan dari pak supir.

semarang tawang

Stasiun Semarang Tawang, hasil jepretan kamera Om Wilson

semarang tawang

Tim Elang yang narsis abis

O iya dari Semarang ke Selo kami menggunakan elf yang sudah kami sewa. Untuk rincian biayanya nanti dipaling bawah ya. Pak supir membawa kami ke rumah makan yang ada di Salatiga. Di sana kami mengisi perut dulu supaya tidak masuk angin. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali menuju Kecamatan Selo di Kabupaten Boyolali. Kami memilih jaur Selo untuk start pendakian kami dengan finishnya di Wekas Magelang. Katanya sih jalur Selo endes banget, maksudnya ekstrim gitu. Iya sih tapi kalau dibalik malah lebih ekstrim Wekas menurut saya.

Sepertinya kami tidak terlalu mengingat banyak perjalanan kami menuju Selo. Saya hanya ingat kalau jalannya berbatu-batu karena menimbulkan goncangan keras. Kami yang waktu itu tertidur pulas langsung terbangun. Tak berapa lama akhirnya kami tiba juga di Basecamp Bapak Parman sekitar pukul 02:00 WIB.

Udara di Selo sangat dingin, sumpah dingin banget. Kami belum memakai jaket lho waktu itu. Saya dan Weyna langsung mengurus Simaksi pendakian sementara teman-teman lain menurunkan barang-barang kami. Setelah menyelesaikan administrasi, kami langsung bergegas masuk ke dalam basecamp dan menggelar sleeping bag (SB) untuk segera tidur.

Selo merbabu

Tiba di Basecamp Pak Parman, Selo, pada kedinginan

simaksi merbabu

Mengurus simaksi, nama saya ada di situ lho

merbabu

Simaksi Merbabu

Pukul 05:30 WIB, orang-orang di sekitar kami sudah mulai ramai. Kami terbangun satu per satu. Ada tim yang sudah siap berangkat, ada juga yang masih berselimutkan SB. Saya dan teman-teman perempuan mulai beres-beres dan bebersih untuk persiapan mendaki. Kalau sudah begini, teman-teman yang laki-laki pasti ngikutin. Kirain di luar masih gelap, tapi ternyata pemirsah, di luar sudah terang benderang jauh dari perkiraan. Akhirnya kami bergegas untuk beberes dan membersihkan diri.

Setelah semuanya selesai, kami sarapan terlebih dahulu. Basecamp Pak Parman juga menyediakan makan lho jadi tak akan susah untuk mengisi perut yang keroncongan. Menu kami pagi itu nasi, dengan telur ceplok dan tempe oreg. Kamil dengan setia tetap menjadi chef kelompok. Dia membantu Bu Parman mengantar sarapan kami. Harganya murah lho, hanya Rp. 8000,- saja kita sudah kenyang. Itulah yang saya suka ketika tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, harga makanannya murah meriah namun mengenyangkan. Cocoklah buat backpackeran macam kami ini hehe.

merbabu selo

di luar sudah terang, ayo siap-siap

tim elang

Iya deh narsis dulu sebelum berangkat

tim elang

Berdoa bersama

Sesudah perut kenyang, barang-barang juga sudah masuk ke dalam carrier, kini tiba saatnya kami untuk memulai perjalanan kami. Sebelumnya mari kita berdoa bersama dulu. Kami berharap pendakian kali ini juga sukses dan menorehkan cerita seru lagi yang akan kami bawa hingga ke rumah masing-masing.

Pintu gerbang Merbabu sudah terlihat, selamat mengikuti perjalanan kami mendaki tapak demi tapak jalanan Gunung Merbabu.

merbabu selo

Kami sudah di pintu gerbang pendakian Gunung Merbabu via Selo, saatnya berpetualang

Lebih lengkapnya, lihat versi YouTube yuk:

Dibalik layar: penulisnya elap keringet karena sudah ditagih temen-temen untuk menuliskan kisah perjalanannya.

Berlanjut ke cerita selanjutnya ya: Petualangan Merbabu: Selo-Sabana 2

Catatan:

  1. Harga Tiket Kertajaya: Rp. 90.000,-
  2. Sewa Elf Semarang-Selo: Rp. 700.000,-/elf
  3. Basecamp: Gratis
  4. Simaksi: Rp. 7500,-/orang
  5. Perlengkapan yang harus dibawa: Carrier, baju ganti 2 pasang, rain coat, sepatu gunung, jaket gunung, buff (wajib), trek poll (wajib), sarung tangan (wajib), head lamp (wajib), kacamata (optional), obat-obatan, makanan dan minuman. Minuman yang dibawa minimal 3 liter per orang.

29 Comments

  1. Wenawey

    Reply

    ^___^” yeiyeyee… catper yg ditunggu-tunggu

    *bantuin kipas2 evrina yg kringetan*
    *pukpukpuk*

  2. Reply

    Menunggu episode berikutnya mbak… * lhah, ini anaknya titipin dmn mb….kok msh bisa dolan-dolan mencumbui alam gini… (Kepengeen juga naik-naik kepuncak gunung,,,,tp krucils mo dikemanain……wis, nyanyi naik2 dipuncak gunung wae lah….)

    • Reply

      haha, anak ku sama mbahnya mbak waktu aku hiking, soale ya gak mungkin dibawa ke tempat ekstrim, episode selanjutnya sudah launching mbak

  3. Ifan Andri Prastya

    Reply

    Seru denger cerita petualangannya, jadi pengen ke Merbabu nih.. Tapi issue nya, tadi malem di lereng gunung terjadi kebakaran ya Mbak?

    Salam kenal

    • Reply

      iya lereng merbabu kebakaran, itu bukan isu tapi beneran, katanya sih dari kembang api yang dibawa oleh salah seorang, semoga cepat padam ya, hayuuu ke merbabu

  4. Pingback: Petualangan Merbabu: (2) Selo-Sabana 2 | Evrina Budiastuti

  5. Reply

    aku udah pernah ke merbabu dooong… kabar dukanya tadi malem liat puncak merbabu lagi merah karna kebakaran.

    Btw dapet samudra diatas awan gak mbak? merbabu paling juara kalau soal yang satu itu apalagi pas siang hari

    • Reply

      dapet nih, cantik banget, cuman anginnya dasyattttt, masuk angin saya abis itu. iyah saya sedih lihat merbabu kebakaran, kan ga boleh ya kita nyalain api di gunung, masak pun harus bawa gas

  6. Lusi

    Reply

    Ya ampun serunya, jadi ikutan bersemangat. Eh. Terus terang aku sering mikir kalau naik gunung itu gimana ke toiletnya dsb. Yah, aku dr golongan ribet. Tapi senang banget baca petualangan seperti ini.

Leave a Reply to Jovi fitra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *