Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Petualangan Rinjani: (2) Menuju Pos 3

rinjani

Minggu, 1 Mei 2016. Hari sudah semakin siang, kami harus segera melakukan pendakian menuju Rinjani yang ada di hadapan mata. Setelah berfoto, berdoa, dan mengencangkan ikat pinggang, kami langsung melangkah beriringan melewati gerbang hijau bertuliskan Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Rinjani. Bagi teman-teman yang belum membaca cerita sebelumnya, dapat menuju link di bawah ini:

Tulisan Sebelumnya: Petualangan Rinjani: (1) Jakarta-Sembalun

Sabana Indah Rinjani

Setelah melewati gerbang, kami langsung mendapatkan hamparan sabana padang ilalang yang menutupi hampir seluruh landscape kaki Gunung Rinjani. Indah banget lho teman-teman, perjalanan naik turun meski belum terlalu terjal terasa sangat ringan ditambah dengan semilir angin yang berhembus. Tak bosan-bosan saya menyenandungkan kekaguman kepada Sang Pencipta atas pemandangan yang indah dan menawa tersebut.

Ketika memandang ke depan, kami melihat jalan lurus di antara padang ilalang yang terus naik namun terlihat memanjang. Kemudian ketika melihat ke belakang, ternyata tanpa sadar kita sudah jauh berada di atas walaupun masih berada di kaki Rinjani. Benar-benar sangat indah, saya sampai bingung harus menuliskan kata apalagi ya.

rinjani

jalan setapak menuju sabana

rinjani

nikmat mana yang kau dustakan?

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan dua orang pendaki yang berasal dari Perancis. Seingat saya, pendaki ini berpapasan dengan kami sebelum tiba di pintu gerbang. Kami menggunakan pick up, sementara mereka berjalan kaki dari basecamp tetapi mereka sudah jauh lebih dulu dari kami. Kami berbincang sebentar dan mereka bertanya apa saja yang dibawa dalam tas carrier. Kami mengatakan kalau kami membawa semuanya: pakaian, makanan, air, jas hujan, anything deh sama seperti mereka. Setelah berbincang-bincang, kami melakukan sesi foto bersama dan segera melanjutkan perjalanan.

rinjani

berfoto bersama pendaki asal Perancis

Teman-teman sudah berjalan terlebih dahulu, sementara saya lebih memilih agak santai sambil menikmati pemandangan yang ada. Target kami hanya sampai pos 3 untuk hari pertama pendakian, jadi diperkirakan sampai pos 3 masih sore hari jadi kami dapat berjalan sedikit santai. Nah, sewaktu melintas ke padang sabana yang ada di sebelah jalan, saya dan suami dihadang oleh sapi yang tengah memakan rumput. Sapinya terlihat subur dan sehat, wajar saja karena digembalakan bebas di padang rumput. Coba deh bandingkan dengan sapi yang dikurung begitu saja dalam kandang, pasti jauh berbeda. Lebih happy sapi yang digembalakan *apa sih ev.

rinjani

mooooo

Kembali ke perjalanan, setelah melewati jalan setapak tempat sapi bersantai ria, kami langsung mendapatkan suguhan bentangan sabana yang berlekuk-lekuk. Jauh dari hadapan saya terdapat rombongan pendaki yang berjalan dari jalur yang berbeda dari aras kedatangan kami. Saya belum tau itu dari arah mana ya? kami kemudian dipertemukan pada satu titik ke jalan setapak yang terus menanjak.

rinjani

bertemu dengan para pendaki dari jalur yang berbeda

rinjani

kami harus melalui jalur yangΒ  ada di belakang saya terlihat para pendaki di sebelah kanan saya

rinjani

Gambar diperbesar

Akhirnya setelah berjalan beberapa lama, kami sampai juga di pos pertama. Di pos ini kami santai sejenak sambil menikmati masakan yang dibuat oleh Pak Juhaini dan Anin, dua orang porter kami.

Dari Pos ke Pos Rinjani

Di pos 1, Pak Juhaini dan Anin mulai membuka logistik yang dibawa. Mereka memasak mie goreng lengkap dengan ayam goreng, kerupuk dan potongan mentimun. Mereka juga sudah membuat teh manis hangat untuk kami agar tenaga pulih kembali. Nanas yang dibawa juga sudah dipotong rapih untuk kami santap secara bersama. Benar-benar pendakian bergizi, baru kali ini kami merasakannya.

rinjani

Pak Juhaini dan Anin mulai memasak

rinjani

Makan enak di atas gunung

rinjani

Nanas nikmat

Sambil menunggu teman-teman lainnya beristirahat, kami melakukan kewajiban terlebih dahulu untuk shalat. Menyenangkan dan syahdu rasanya shalat di tengah kedamaian seperti ini. O iya, kalau musafir katanya doanya lebih mudah untuk diijabah ya, maka perbanyaklah doa yang baik selama melakukan perjalanan. setelah semua selesai, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali. Kalau tidak salah saat itu waktu menunjukkan pukul 13:00 WITA.

Perjalanan menuju pos 2 masih sama seperti ke pos 1, landai dan bersahabat. Saya sampai takjub karena baru kali ini jarak antara pos 1 dan pos 2 terasa dekat. Lain halnya jika medan pos 1 ke pos 2 berjalan naik, pasti terasa jauh. Kami beristirahat di jembatan yang ada di bawah pos 2 karena kondisi pos 2 saat itu ramai dan jalannya menanjak. Di sana kami berbincang dengan sesama pendaki yang ternyata banyak juga yang berasal dari Jawa Barat.

rinjani

Menuju pos 2

rinjani

Suasana pos 2

Setelah cukup energi, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali menuju pos 3. Rupanya perjalanan menuju pos 3 mulai menanjak. Saya mulai kelelahan, sebentar-bentar istirahat walaupun istirahatnya sambil berdiri. Kaos yang saya kenakan sampai basah lho, jadi kalau berdiam diri agak lama akan terasa dinginnya. Apabila sudah terasa dingin, saya mulai bergerak kembali untuk menghindari hipotermia.

Akhirnya setelah berjalan agak menanjak, kami tiba juga di pos bayangan sebelum pos 3. Di sini kami beristirahat cukup lama karena pos 3 sudah dekat jaraknya. Sepertinya teman-teman juga kelelahan karena tidak ada yang berdiri saat itu, semuanya rebahan di tanah tidak memperdulikan kotor dan sebagainya. Enak sekali tiduran di tanah saat itu karena dapat melihat langit biru secara langsung.

rinjani

Jalan terus menuju pos 3

rinjani

semuanya kelelahan

Om Wilson sudah memberikan aba-aba untuk bergerak. Pos 3 tinggal sedikit lagi. Kami harus menanjak beberapa kali dan melewati jembatan hingga akhirnya berjumpa dengan pos 3 yang sudah dipenuhi pendaki. Saya langsung mencari lokasi tenda di dirikan. Di sana terlihat Pak Juhaini dan Anin yang sudah seolah membuat kavling tempat tenda berdiri. Tetapi rasanya kurang nyaman karena saya menghirup aroma ranjau manusia di sekitar.

rinjani

Melewati jembatan

rinjani

Akhirnya tiba juga

Di sekitar kami memang berpasir dan ini menjadi lahan empuk untuk membuang kotoran. Tetapi saya ingatkan ya, kalau mau membuang kotoran buatlah lubang lalu tutup kembali agar tidak mencemari lingkungan dan merusak pemandangan. Kalau tercium begini kan jadi merusak keindahan.

Akhirnya kami mendirikan tenda di sana untuk bermalam sehari sebelum besok berjalan ke medan yang lebih berat melewati tujuh bukit penyesalan. Kondisi saya saat itu mulai tidak fit karena terserang demam. Saya langsung mematuhi arahan teman saya yang bernama Bintar untuk segera minum obat dan tidur saja, sementara teman lain mulai memasak dan memotret keadaan sekitar.

rinjani

bintang bertaburan di pos 3

Malam hari, saya memberanikan diri untuk melongok ke luar, subhanallah indah banget, bintang terlihat bersinar berkat langit yang cerah. Tetapi saya harus segera tidur untuk memulihkan tenaga dan mengusir demam. Bahaya sekali jika kondisi tidak fit sementara kondisi medan cukup berat untuk dilalui.

Nah, bagaimana kelanjutan cerita petualangan Rinjani? Nantikan tulisan selanjutnya ya ketika menuju Plawangan Sembalun.

rinjani

Gunung Rinjani sudah terlihat dari pos 3

 

Related Post

60 Comments

  1. Evi

    Reply

    Mbak Ev, Membaca saja saya sudah ngos-ngosan. Entah bagaimana nasib saya kalau sampai ikutan naik ke atas Rinjani. Pingsan berkali-kali kali. Sabana nya benar-benar cantik πŸ™‚

  2. Anne Adzkia

    Reply

    Wah bisa dapat foto milky way gitu Ev, masya Allah cantik banget

  3. Reply

    aku punya ransel tinggi gitu tapi baru dipake sekali sama pascal, aku kapan naik gunung ya πŸ™‚

  4. Reply

    Asyiknya bisa berpetualang. Sebelum tulisan ini, saya juga habis dipanas-panasin sama senior yang duluan naik ke Rinjani sebelum Mbak Evrina. Tambah baper jadinya setelah baca tulisan ini. Kapan yah bisa bisa ke sini.

    Oh iya, liat foto sabana yang dipotret dari bawah mirip sabana yang ada dikampungku.

  5. Reply

    haaissh…. pemandangannya juara bgt mbak ^o^.. milky waynya apalagi.. ga heran kalo org asing jg bela2in dtg ke rinjani.

    aku ngebayangin makan di daerah gunug bgitu.. kayaknya sesederhana apapun menunya trasa nikmat bgt yaa πŸ™‚ ..

  6. Ani Berta

    Reply

    Wahhh di gunung bisa masak Mie ev?
    Eh pernah gak lagi mendaki hujan? Leueur sigana nya Ev? πŸ˜€

  7. Reply

    Bintang-bintangnya bagus sekali, mbak Ev. Ya Allah, saya ingin sekali berada disana.
    Ternyata mendaki tuh banyak temannya ya mbak. Bayangan saya diperjalanan tuh sepi cuma rombongan kita aja dan lokasinya juga hutan-hutan dan batu-batuan gitu. Atau tergantung lokasi gunungnya ya mbak. Apakah sabana ini hanya ada di gunung Rinjani atau setiap gunung punya sabana mbak? *wah saya kelihatan katro ya, hehe

    • Reply

      sabana tidak semua gunung memiliki, yang terluas di rinjani setau ku, di semeru dan gunung gede ada sabana kok, kalau mendaki pastinya barengan sama teman2 dan pendaki lainnya, jadi gak sendiri

  8. Reply

    Wah, surat Arrahman masuk mbak,”Nikmat Mana yang kau dustakan?”
    Sapinya mulya tuh mbak, bisa makan sepuasnya…..
    Rinjani oh rinjani, dulu pernah ada rencana untuk kesana tapi belum jadi – jadi, πŸ™‚
    Keren! πŸ™‚

  9. Reply

    Luar biasa pemandangannya, keren deh. Semoga selalu sehat ya Mba, jd naik gunung lagi nanti

    maaf Mba, baru bisa folow IG nya sekarang

  10. Aireni Biroe

    Reply

    Ditunggu kelanjutannya, Mbak Ev…Btw, kok gak ada foto berdua sama Pak Suami, Mbak? πŸ˜€

  11. Reply

    Subhanallah…
    nikmat mana yang kau dustakan?

    ehh itu ada cowokcakep di tengah2 jalan ya mbak hhhee.. cek sehatnya dia… wekekee
    andai bisa dibawa pulang mbak.
    *halahh hhheee

  12. Rosanna Simanjuntak

    Reply

    Berarti aku kalau sering dilepas, pasti tambah montok ya, mbak
    Ini apa sih?
    Hahaha…

  13. Levina Mandalagiri

    Reply

    Jadi pengen mendaki gunung lagi. Whuuuaaa!!
    Btw, itu banyak banget yang mendaki. Jadi ngga ngerasa keueung gitu yak karena banyak temannya. Trus ada porternya juga tuh keliatannya, kayak kuli angkut ya Mbak? Iiih, anak kecil kuat ngga yak kalau diajak ke sini?

    • Reply

      kemarin ada yang bawa anak kecil, tetep harus disediakan 1 porter khusus untuk si anak biar kalo cape bisa digendong

  14. Reply

    MasyaAllah, kereen banget yah Mbak.. hijau2 dimana2… bintang2 seakan menyambut dgn ramahnya…

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *