Jalan-Jalan ke Purwakarta: Waduk Cirata dan Gunung Parang

Di bulan Februari 2018, dikala bingung melanda karena bingung hendak jalan ke mana. Masa iya ke Bogor lagi? Secara mau bepergian agak jauh belum bisa, apalagi pergi ke gunung, hiks. Lalu pak suami melontarkan ide yang brilliant, mengapa tidak pergi ke Purawakarta saja, di sana kan ada bibi yang baru saja pindah ke Purwakarta. Beliau sudah sering mengajak untuk mampir ke rumahnya. Kebetulan rumah bibi dekat sekali dengan Waduk Cirata, jadi terbayang kan bagaimana kesejukan di sekitar rumah bibi? Yang pasti tidak ada polusi suara, berganti dengan suara alam nan sejuk dari Waduk Cirata.

Kami hanya dua hari saja jalan-jalan ke Purawakarta. Perginya hari Jumat, lalu pulang di hari Sabtu. Hal tersebut sengaja kami lakukan agar di hari Minggu kami bisa beristirahat penuh sebelum bekerja kembali di hari Senin. Oke, tanpa panjang lebar, berikut adalah cerita ringan jalan-jalan keluarga kami ke Purwakarta selama dua hari satu malam.

Menikmati Sore di Waduk Cirata

Perjalanan ke Purwakarta dari Bojonggede, Bogor kami tempuh dengan menggunakan mobil sejak pukul 7 pagi. Kami melalui jalan ke arah Jonggol, Cariu, hingga akhirnya tembus ke Cianjur yang berbatasan dengan Purwakarta. Di Cianjur, kami sempat berhenti sejenak untuk beristirahat sambil bapak-bapak menunaikan ibadah shalat Jumat. Saat kami berangkat dari Bogor, cuacanya sedang hujan, tetapi ketika tiba di Cianjur cuaca sedang dalam kondisi panas.

Setelah selesai jumatan dan shalat dzuhur, kami semua kemudian kembali melanjukan perjalanan langsung ke Purwakarta. Dari sana tidak terlalu jauh ternyata. Setelah melewati hamparan sawah, melalui perkotaan, akhirnya tiba juga di area Waduk Cirata yang sejuk karena di sekitarnya ditumbuhi oleh pepohonan.

Bibi sudah menunggu di salah satu sisi waduk, beliau mengajak kami untuk istirahat sejenak dulu di rumahnya, baru kemudian sore hari menikmati senja di Waduk Cirata. Benar seperti yang saya duga, rumah bibi pasti adem. Di sana tidak perlu menggunakan kipas karena angin sudah cukup banyak. Ketika kami sudah merasa cukup beristirahat, kamipun kembali menaiki mobil menuju Waduk Cirata yang letaknya dekat dengan rumah bibi.

Saya pikir Waduk Cirata ini tidak terlalu luas, ternyata luas sekali lho. Kalau misalnya para pengunjung ingin berfoto di jembatan yang membentang di antara Waduk Cirata itu diperbolehkan, tetapi ada syaratnya. Kendaraan yang dibawa oleh pengunjung tidak boleh diparkir di dekat atau di atas jembatan. Kendaraan harus parkir di tempat yang sudah disediakan, baru deh nanti pengunjung jalan kaki ke arah jembatan. Mau selfie sepuasnya boleh-boleh saja asal ikuti peraturan tersebut ya.

Berapa biaya untuk menikmati Waduk Cirata ini? gratis kok, paling hanya membayar ongkos parkir saja. Karena ini free, tetap harus patuhi peraturan, jaga kebersihan, dan juga keselamatan. Ingat, Waduk Cirata ini objek vital jadi harus benar-benar disiplin ketika berada di sana.

Setelah puas melihat bagaimana megahnya Waduk Cirata, kemudian kami kembali bergerak ke area kuliner yang ada di pinggir waduk. Sebelumnya bibi sudah memesan makanannya terlebih dahulu, sehingga ketika kami datang makanan sudah siap sedia.

Saat itu kami menikmati kuliner Waduk Cirata di kedai Sinar Barokah yang langsung berhadapan dengan danau. Ketika kami sudah sampai di kedai, ternyata hujanpun turun, semakin membuat nikmat makan sore dengan ikan bakar serta lobster. Tanpa panjang lebar, langsung deh kami semua kalap menikmati hidangan yang ada. apalagi nasinya juga special yaitu nasi liwet.

Kenyangnya sudah, istirahatnya juga sudah, lalu saya dan pak suami mencoba turun mendekati area Waduk Cirata yang terlihat tenang setelah hujan. Sayangnya kami tidak bisa naik perahu karena baru saja hujan sehingga hanya dapat menikmati Waduk Cirata dari pinggiran. Kemudian karena hari semakin sore, kamipun memutuskan untuk pulang saja dan beristirahat kembali karena masih ada objek wisata lainnya yang ingin dikunjungi keesokan harinya.

Wisata Alam Gunung Parang Endah

Hari kedua, kami semua sudah bangun dan sarapan lebih awal karena di hari tersebut akan mengunjungi objek wisata ala pegunungan. Sudah pasti akan lelah nantinya, apalagi setelah magrib kami langsung pulang kembali menuju Bogor. Sehingga di hari kedua ini kami langsung saja berangkat lebih pagi.

Perjalanan kami di hari kedua adalah mengunjungi Gunung Parang Endah. Walaupun judulnya gunung, kami tidak akan hiking dulu, cukup trekking kecil saja karena membawa keluarga. Walaupun trekking ringan, bukan berarti tidak membutuhkan tenaga lho.

Sebelumnya kami melalui jembatan berwarna orange yang memiliki nama Jembatan Cilangkap. Sama seperti jembatan yang sudah saya ceritakan, untuk mengabadikan diri di sini harus memarkirkan kendaraan pada tempat yang diperbolehkan. Setelah itu kita dapat berjalan kaki untuk berfoto di sekitar jembatan Cilangkap.

Jembatan Cilangkap ini unik, selain memiliki warna orange yang ngejreng dan kontras dengan background pepohonan yang ada di belakang, jembatan ini juga memiliki papan-papan pengingat di sepanjang jembatan. Ini nih yang namanya traveling tetapi juga sambil tafakur alam, dua-duanya dapet.

Kami tidak terlalu lama berada di Jembatan Cilangkap karena memang tujuan utamanya bukan ke sana. Dari arah jembatan, kami melalui jalan perkotaan, lalu masuk ke jalan daerah melewati padang bukit yang sepintas mirip padang gembala di daerah timur. Soalnya sepanjang jalan saya melihat kambing dan kerbau dibebaskan begitu saja untuk menikmati santapan rumput yang alami. Saya berharap semoga terus ada. aamiin.

Tak berapa lama, kami mulai memasuki area jalan menuju objek wisata Gunung Parang Endah. Saya sarankan agar teman-teman membawa driver yang sudah ahli karena jalanan masuknya cukup sempit dan berada di ketinggian dekat dengan pohon bambu. Sehingga harus hati-hati banget untuk sampai ke sana.

Akhirnya lokasi yang dituju terlihat di depan mata. Dengan membayar karcis masuk sebesar Rp. 5000,- saja, kita sudah bisa menikmati area Gunung Parang Endah. Gunung Parang Endah merupakan gunung berbatu dan bagi pengunjung yang ingin berkeliling di antara punggungnya bisa banget karena pihak pengelola sudah menyediakan trekking berupa jalur bambu. Nanti tinggal menelusuri saja sesuai dengan tanda panah yang diberikan.

Bagian yang saya sukai dari Gunung Parang Endah adalah temanya yang berupa wisata gunung namun mudah dilalui bagi orang awam bahkan orang tua sekalipun. Jadi kalau membawa keluarga ke sini tidak perlu khawatir, semuanya bisa merasakan, kecuali bayi dan balita yang harus dalam pengawasan orang tua. Hanya saja fasilitas seperti toilet agak kurang di sini.

Nah, kalau kita jalan lebih ke atas mengikuti jalur bambu, akan menemukan objek wisata lainnya yaitu Wisata Sasak Panyawangan Bongkok. Untuk masuk ke area ini cukup membayar Rp. 5000,- saja per orang. Tempat ini menurut saya lebih bagus lho daripada sebelumnya karena berada di tempat yang lebih tinggi lagi.

Lokasi wisata ini mengingatkan saya akan gunung batu yang ada di China. Bedanya adalah kalau di Gunung Parang Endah ini memiliki lantai terbuat dari bambu, sedangkan di China menggunakan kaca yang tembus pandang ke bawah. Menurut saya adrenalinnya sama-sama menegangkan karena selama menapaki bambu tersebut, saya terbayang saja jika bambunya tiba-tiba keropos, ngeri banget kan. Syukur Alhamdulillah saat kami di sana aman-aman saja karena kami yakin pengelola pasti menjaganya dengan baik.

Setelah puas menikmati pemandangan di sana, kami memutuskan untuk segera kembali ke rumah bibi dan beristirahat sejenak di sana. Malam harinya setelah shalat magrib, kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke Bogor. Lumayan deh jalan-jalan ke Purwakarta selama dua hari itu, cukup memompa semangat untuk hari senin. Nanti akan kami setting lagi jalan-jalan bersama keluarga supaya suasana kehangatan di alam menjadi riang gembira.

9 Comments

  1. Reply

    aduh, seger bener ya mbak. liat yang ijo-ijo terus ๐Ÿ˜€
    saya jadi kepingin duduk-duduk dengan pemandangan Gunung Parang Endah. Seger!

  2. Reply

    Enaknya hidup dan punya rumah di daerah dataran tinggi ya kayak gitu. Tiapp hari bisa disuguhi pemandangan hijau-hijau seger dan semilir angin tanpa takut kepanasan. Hehe..
    View dari jembatan bambu di Gunung Parang, cantik banget mbak. Tapi kudu hati-hati juga ya. Misal pas mau kesana lihat-lihat usia jembatan bambunya dulu. Takutnya kayak yang dibilang Mbak Ev. Keropos, eh dapet foto selfie enggak–jatuh iya. **Tapi jangan sampai ding**

  3. Reply

    Waaah … pak Suami idenya brillian deh tau ajaaa ngajakin bu Istri jalan-jalan ke waduk keren … ๐Ÿ‘
    Pulangnya langsung hati riang gembira ๐Ÿ˜

    Kak, foto terakhir jembatan bambunya mirip banget lokasinya sama di Watu Mabur yang udah pernah kuposting.
    Jembatan bambunya nempel di bebatuan.
    Cakep deh โ˜บ

  4. Reply

    Suasananya tenang banget ya? Beda banget dengan hiruk-pikuknya Jakarta. Enak banget kayaknya untuk merenung hehehe…

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *