Nostalgia Sambil Wisata di Kediri

wisata-di-kediri

Pada awal bulan Desember 2017 lalu akhirnya saya merealisasikan salah satu rencana yang sudah disusun sejak lama yaitu nostalgia sambil wisata di Kediri, Jawa Timur. Mengapa reuni? Karena sebelumnya saya sudah pernah menjadi warga Kediri cukup lama yaitu 3,5 tahun. Eh itu sebentar ding ya, tapi cukup membuat saya merasa hapal hampir di setiap sudut Kediri. Terakhir saya mengunjungi Kediri itu di tahun 2014, waktu itu saya sudah cukup takjub dengan perkembangannya. Apalagi saat saya mengunjungi kota yang terkenal dengan tahu takwanya tersebut di tiga tahun selanjutnya, tentu banyak perubahan yang terjadi.

Sebenarnya saya ingin bertemu dengan teman-teman sambil bernostalgia, tetapi niat itu akhirnya saya urungkan. Soalnya saya tau mereka pasti sibuk dan sudah tidak sama seperti saat masih single dulu yang bebas ke sana-sini. So nostalgia yang saya lakukan lebih ditujukan kepada bangunan, kondisi terbaru di sekitar kota, serta kepada masyarakatnya. Namun syukur alhamdulillah meskipun tidak janjian untuk ketemu dengan teman-teman, akhirnya ada beberapa orang teman yang berhasil saya temui, sebuah berkah silaturahim. Cerita lengkap mengenai reuni dan wisata di Kediri, akan saya jabarkan lebih lengkap pada point berikut ini ya.

Menyusuri Sudut Kota Kediri

Saya bersama pak suami dan juga si jagoan neon berangkat ke Kediri dari Jakarta waktu itu tanggal 30 November 2017 dan tiba keesokan harinya di tanggal 1 Desember 2017 pagi. Saat itu kondisi sedang long weekend sehingga seluruh kursi penumpang penuh terisi semuanya. Kalaupun ada yang turun di stasiun tertentu, pasti akan segera terisi kembali. Kereta yang kami tumpangi saat itu adalah Kereta Singasari dengan jenis kelas ekonomi. Kami tiba di Stasiun Kediri pukul 2 pagi dan langsung menuju Hotel Penataran Asta Kediri yang sudah kami pesan beberapa hari sebelumnya. Di sana kami menghabiskan waktu untuk beristirahat hingga waktu pagi tiba.

wisata-di-kediri

Paginya setelah sarapan di hotel, saya langsung keluar untuk melihat kondisi di sekitar Jalan Dhoho tempat hotel berada. Jalan Dhoho merupakan jalan yang banyak terdapat beraneka ragam toko, mulai dari toko yang menjual pakaian, oleh-oleh, hingga toko kelontong. Di jalan ini juga terdapat beberapa deretan hotel, sehingga jika ketika mengunjungi Kediri jangan khawatir akan penginapan.

Ada salah satu tempat yang saya tuju pertama kali saat keluar dari hotel yaitu penjual nasi pecel khas Kediri yang ada di seberang hotel. Saya langsung memesan nasi pecel meskipun pagi itu sudah sarapan, soalnya saya sudah kangen dengan nasi pecel asli Kediri.

Dari tempat penjual nasi pecel, kami menyusuri deretan toko bernuansa bangunan tua. Ini yang menjadi salah satu khas Kota Kediri, masih terdapat bangunan tua yang asik untuk background instagramable. Kami sempat beberapa kali berfoto di sana meskipun sebenarnya toko tersebut biasa saja, apalagi saat itu kondisi sedang gerimis.

wisata-di-kediri

Sayang ya dicorat-coret

Oh iya, kami menemukan tanda nama Kota Kediri lho yang mungkin belum diketahui oleh orang Kediri langsung.

wisata-di-kediri

Dari sana, kami langsung menuju ke tempat oleh-oleh. Rencananya oleh-oleh kami beli hari ini dan sore harinya langsung kami kirim melalui paket pengiriman agar barang bawaan saat pulang nanti tidak terlalu berat. Oleh-oleh khas Keidiri yang dapat dibawa pulang di antaranya adalah: Tahu Takwa, Getuk Pisang, dan Sambel Pecel Kediri.

wisata-di-kediri

wisata-di-kediri

Puas berbelanja oleh-oleh, kami berjalan ke arah belakang agak menjauh dari arah hotel. Jangan khawatir tersesat di Kediri ya, soalnya jalurnya sangat rapih sehingga kalau kita berjalan dari arah tertentu, maka akan menembus di jalan besar yang memudahkan pencarian lokasi atau dapat dikatakan banyak jalan tembusan deh.

Kemudian kami tiba di sebuah kelenteng yang sebenarnya ini bukan tempat wisata di Kediri, melainkan rumah ibadah. Saya sudah bertanya kepada pihak keamanan di kelenteng apakah boleh berfoto di depan kelenteng yang memiliki background merah tersebut. Pihak keamanan kemudian memperbolehkan kami untuk berfoto di depannya.

wisata-di-kediri

Saat berfoto di sana, terasa sedang berada di Korea or China lho. Temboknya yang tinggi dan berwarna merah seolah menggambarkan kita sedang berada di sana. Sekali berenang, dua tiga pulau terlampaui deh.

wisata-di-kediri

Hari semakin siang, kami segera kembali ke jalan menuju hotel, apalagi saat itu kami harus segera check out dan pak suami juga harus melaksanakan shalat jumat. Tapi yang namanya narsis memang tidak dapat dibendung ya, soalnya ketika melewati sebuah bangunan tua bekas gedung theater, kami langsung berhenti dan berfoto di sana. Sekali lagi karena backgroundnya instagramable.

evrinasp

Oke akhirnya kami check out juga dari hotel dan meneruskan perjalanan kami ke wisata di Kediri lainnya yaitu Monumen Simpang Lima Gumul.

Wisata di Kediri, Monumen Simpang Lima Gumul

Waktu zaman saya masih bekerja di Kediri, belum ada yang namanya kendaraan online. Sehingga kalau di Kediri tidak memiliki kendaraan sendiri jadi mati gaya deh, susah untuk ke mana-mana. Saya sampai mendatangkan motor dari Bogor untuk dapat digunakan selama bekerja di Kediri saat itu. Alhamdulillah ketika mengunjungi Kediri lagi sudah ada kendaraan online mulai dari motor hingga mobil yang memudahkan untuk wisata di Kediri.

Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi Kediri namun belum berfoto di monumennya yaitu Monumen Simpang Lima Gumul. Dapat dikatakan saya adalah salah satu orang yang menjadi saksi bagaimana monument simpang lima dulu dibangun. Saat saya masih bekerja di sana, kondisi Monumen Simpang Lima Gumul masih terlihat gersang sehingga kalau mau mengunjungi lebih asik di malam hari saja. Waktu dulu Monumen Simpang Lima Gumul menjadi tempat yang asik untuk nongkrong bersama teman di malam hari lho.

wisata-di-kediri

Sayangnya saat saya berkunjung ke sana di tahun 2017, kondisi sedang gerimis dan penuh dengan wisatawan lokal. Sehingga kurang asik juga untuk eksplore mengelilingi monumennya. Apalagi saat itu juga monumen masih dalam kondisi pemeliharaan, jadi kami memilih untuk tidak berlama-lama di sana.

Nah, sesuai dengan namanya yang berupa simpang lima, maka terdapat lima jalur yang masing-masing mengarah ke tujuan berbeda. Kami kemudian mengambil jalur menuju Pare di Kabupaten Kediri yang menjadi tempat selanjutnya untuk menghabiskan waktu selama di Kediri.

Reuni di Pare Kediri

Kurang dari satu jam perjalanan dengan menggunakan ojeg online, kami tiba juga di Pare. Pare merupakan tempat saya bekerja sejak tahun 2007-2010 yang lalu. Saya agak takjub dengan perubahan yang banyak terjadi di Pare. Ibu kota Kabupaten Kediri ini terlihat sangat ramai, banyak toko pakaian semacam distro, serta cafe-cafe yang menjadi tempat hangout bagi anak muda.

Setelah kami sampai di hotel tempat kami menginap selama satu hari, kami langsung berjalan mencari tempat makan. Seingat saya, dari arah hotel menuju area yang dipenuhi lokasi makanan di Pare itu cukup dekat. Namun ternyata cukup jauh, kami sampai kelelahan karena berjalan kaki dari hotel menuju tempat makan. Saya baru ingat kalau dulu ke mana-mana sering menggunakan motor jadi terasa dekat. Padahal aslinya jauh juga lho.

Menjelang sore hari, pak suami dan jagoan neon memilih untuk beristirahat saja di kamar hotel sementara saya bertemu dengan seorang teman kerja yang sudah menunggu di depan hotel.

Rasanya senang sekali bisa bertemu dengannya, tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, apalagi saat dia mau mengantar saya menuju kantor tempat saya bekerja dulu. Ini namanya benar-benar nostalgia sambil reuni kecil. Saya merasa bersyukur walaupun tidak dapat bertemu dengan banyak teman lainnya.

Sehabis dari kantor lama, saya langsung pulang menuju hotel untuk beristirahat karena keesokan harinya agenda akan lebih penuh. Di hari kedua, kami akan melakukan one day trip Pare-Blitar yang akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

Related Post

14 Comments

  1. Reply

    lumayan juga mbak pengalaman kerja ke beberapa kota jadi ada tempat untuk nostalgia ya..
    foto2 dengan background jadul itu jadinya keren banget mbak..
    pinter aja nyari latar

  2. Reply

    Jadi tentor di Kampung Inggris, Mbak Ev?
    *sok tahu banget*

    Getuk pisang itu idola banget kalau ada temen kuliah yang asli Kediri habis pulang kampung. Pas dateng ke kampus bawa oleh-oleh mesti langsung diserbu habis. Tahu warna kuning itu yang namanya tahu takwa? Baru tahu saya.
    Sayang banget, padahal kalau pas ngga ada momen perawatan itu bakal dapet foto kece ala-ala di Paris sono ๐Ÿ˜€

    • Reply

      iya haha, pas lagi dirawat, ya udah ga apa2, ada foto2 jadul waktu monumen gumulnya gak dirawat haha, aku gak ke kampung inggris, cuma main aja di sana

  3. Pingback: 8 Destinasi Wisata di Blitar yang Dapat Dikunjungi Dalam Waktu Sehari – evventure

  4. Pingback: Wisata ke Gunung Kelud – evventure

  5. Dhio Pramudya

    Reply

    itu fotonya yg lama yah mbak simpang 5 gumulnya
    yang mirip sama yg di negada prancis itu kan yah ?

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *