Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Menanam Impian di Gunung Prau

Malam itu saya dan teman-teman sudah tiba di Dataran Tinggi Dieng Kabupaten Wonosobo. Dengan menggunakan bis, kami bertolak dari Bekasi selama lebih dari 12 jam hingga akhirnya tiba di Magelang untuk melakukan rafting di Sungai Elo terlebih dahulu. Namun tujuan utama saya mengikuti petualangan ala grup Vertical Adventure ini sebenarnya adalah untuk menjelajahi Gunung Prau yang merupakan tanah tertinggi pada Dataran Tinggi Dieng. Gunung ini kurang dilirik oleh para pendaki karena berbentuk panjang dengan ketinggian hanya sebesar 2565 mdpl saja. Tetapi jangan salah, pemandangan yang disuguhkan oleh Gunung Prau tak kalah eksotisnya dengan panorama pegunungan lainnya namun tidak terlalu ekstrim bagi pendaki pemula seperti saya.

Bagi peminat wisata adventure dengan tujuan Gunung Prau, kita bisa mengambil jalur trekking melalui Desa Patak Banteng. Jalur trekking menuju puncak Prau pada desa ini jauh lebih dekat ketimbang jalur lainnya yang hanya memakan waktu dua jam pendakian saja. Kita bisa menginap di atas Gunung Prau dengan mendirikan tenda pada Camping Area atau menginap dalam home stay yang ada di Desa Patak Banteng sebagai base camp awal menuju tempat pendakian.

Persiapan menuju Gunung Prau melalui jalur Patak Banteng

Tepat pukul 02:00 WIB kami sudah dibangunkan oleh team Vertical Adventure untuk melakukan persiapan pendakian. Sebelumnya kami melakukan checking terlebih dahulu terhadap perlengkapan yang wajib dibawa ketika mendaki. Kami diwajibkan memakai jaket gunung, sepatu trekking, sarung tangan, masker atau buff, head lamp, carrier bag ukuran 30-40 liter, rain coat, air minum 1,5 liter dan makanan secukupnya. Setelah semua lengkap kami pun berdoa bersama agar acara berjalan sukses. Sekitar pukul tiga dini hari kami pun mulai melakukan petualangan menuju Puncak Prau.

Kami melalui jalan di sekitar rumah warga yang sudah terbetonisasi, kemudian berbelok ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya menemukan jalan berbatu yang sudah tersusun rapi. Trekking pada jalan ini cukup menguras energi karena berupa jalan menanjak yang cukup panjang hingga akhirnya tiba pada pos awal pendakian. kami mengikuti rombongan yang sudah jalan terlebih dahulu berbelok kiri mengikuti jalan mendaki berupa tanah. Di samping kiri disediakan pagar bambu bagi pendaki yang hendak berpegangan sekaligus pembatas dengan tanah warga yang dijadikan sebagai areal pertanian. Tanaman kentang mendominasi areal pertanian yang ada di kanan  kiri jalur trekking. Beberapa kali saya harus hati-hati ketika kaki mulai berpijak pada tanah yang cukup licin. Karena sekarang sudah mulai memasuki musim hujan, maka jalur trekking cukup licin sehingga para pendaki diharapkan hati-hati.

Jalur Trekking menuju pos II

Kemudian tibalah kami di Pos II yaitu Canggal Walangan. Di Pos ini pemandangan masih cukup jelas lantaran belum berkabut, kami beristirahat sejenak selama kurang lebih 5 menit untuk mengembalikan stamina sambil minum dan memakan bekal yang kami bawa. Antara pos awal hingga pos II masih terdapat warung-warung kecil yang didirikan oleh warga dengan menggunakan terpal. Warga menyiapkan beberapa makanan dan minuman hangat bagi para pendaki yang hendak mampir atau sekedar menumpang untuk meluruskan kaki.

Pos II Canggal Walangan

Istirahat selesai, kami mulai melakukan trekking kembali, memasuki pos III pemandangan mulai tertutupi kabut. Terlihat butiran-butiran kabut menerobos sinar lampu pada head lamp yang saya gunakan. Mulai pos ini saya kembali harus ekstra hati-hati terutama saat memilih jalan. Trek yang ada tidak hanya berupa tanah saja melainkan kombinasi batu besar dan tanah yang dapat membuat kita terpeleset lantaran licin. Untuk beraga-jaga sebaiknya berpegangan pada akar tanaman yang ada di sekitar atau tali yang sudah disediakan para pendaki sebelumnya. Pos III yaitu Pos Cacingan merupakan pos terakhir sebelum akhirnya mencapai puncak Prau. Kami kembali beristirahat sebentar untuk meneguk air minum dan mengunyah coklat yang kami bawa. Cara ini cukup menambah energi kami ketika harus kembali berhadapan dengan jalan licin mendaki yang cukup ekstrim.

Jalur trekking menuju Pos III, mulai berkabut tebal

Pos III Cacingan

Beristirahat sejenak di Pos III

Sesama pendaki meskipun dari grup yang berbeda tetap saling memberi semangat untuk tidak menyerah demi mendapatkan Golden Sunrise Gunung Prau. Kami juga saling membantu ketika salah satu teman tidak bisa mendaki tebing yang ekstrim menuju puncak. Saya sendiri antara yakin dengan tidak yakin ketika melewati beberapa jalur trek yang cukup curam. Namun berbekal dengan semangat dan tekad akhirnya kami tiba juga di atas Gunung Prau. Sayup-sayup sudah terdengar suara adzan shubuh. Sebelum menuju camp area, kami melaksanakan kewajiban terlebih dahulu untuk menunaikan shalat shubuh. Bagi teman-teman yang hendak berwudhu dapat bertayamum atau menggunakan embun pada bunga daisy yang hampir mendominasi area Gunung Prau. Perjalanan pun kami lalui dan matahari perlahan mulai menampakkan sedikit sinarnya. Dari sana terlihat jelas bahwa kami telah sampai pada Camp Area sekitar pukul setengah 5 lewat.

Tiba di Camp Area

Sambil beristirahat sejenak di area ini, kami pun melihat pemandangan sekitar. Cukup banyak para pendaki yang meninap di atas Gunung Prau, mulai dari pendaki lokal maupun luar daerah. Ada juga beberapa orang siswa sekolah yang mendirikan tenda pada Bukit Teletubbies Gunug Prau yang terkenal itu. Setelah cukup beristirahat kami mulai mendaki sisi kiri dari Bukit Teletubbies. Saya sempat membuka jaket karena cukup gerah walaupun udara sangat dingin. Sayang sekali cuaca saat itu sangat berkabut sehingga kami tidak bisa melihat keseluruhan pemandangan yang terhampar di depan Gunung Prau. Beberapa pendaki mengatakan supaya kita dapat melihat view indah yang diberikan oleh Gunung Prau maka ada baiknya apabila kita mendaki pada musim kemarau sekitar bulan Agustus. Saya dan teman-teman memutuskan untuk mendaki pada bulan November ini lantaran ketika bulan Oktober kemarin teman kantor yang sudah lebih dahulu mengunjungi Prau masih mendapatkan pemandangan Prau yang eksotis.

Suasana Camp Area

Suasana Camp Area

Belum puas rasa penasaran, kami menuruni Bukit Teletubies yang berada di sebelah kiri untuk mendaki bukit yang berada di sebelahnya. Menurut Bang Jago pemandu kami, bukit yang ada disebelah kanan merupakan bukit yang paling tinggi, apabila cuaca cerah kita bisa melihat golden sunrise lengkap dengan tampilan memukau dari Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kami pun menuju kesana, treknya tidak terlalu menanjak seperti bukit pertama. Di atas bukit ini saya mulai kedinginan dan kembali mengenakan jaket serta sarung tangan. Memang kalau kita diam sedikit maka badan akan menggigil karena suhu di atas Gunung Prau memang sangat dingin hingga mencapai 00C. Di atas bukit ini kabut sempat beberapa kali hilang, saya berhasil mengabadikan beberapa landscape indah yang terhampar di bawahnya, diantaranya adalah Telaga Warna yang memang menjadi salah satu destinasi wisata dieng. Hamparan hijau tanaman hortikutura juga turut serta menambah keindahan panorama Dieng dari atas Gunung Prau.

Golden Sunrise di atas Gunung Prau ditambah dengan eksotisnya Sindoro Sumbing

Golden Sunrise

I am Here

Datarang tinggi Dieng yang memukau, terlihat telaga warna yang sangat indah, foto diambil oleh Fajril A

Di atas Bukit Teletubies ini saya dan teman-teman menanam beberapa impian yang ingin kami deklarasikan ketika menginjakkan kaki di puncak ini. Menurut Carl Sandburgh “Tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali diawali dari sebuah impian” maka menanamkan mimpi sedari awal penting untuk dilakukan. Berbagai macam mimpi yang dimiliki oleh teman-teman. Ada yang ingin melanjutkan studi ke Belanda dan juga ada yang ingin keliling dunia. Kalau saya, saya memiliki mimpi untuk menjejakkan kaki di beberapa puncak gunung yang ada di Indonesia. Mimpi saya yang sangat ingin dicapai saat ini adalah berdiri di puncak Mahameru, mimpi ini sudah saya bawa kemana-mana termasuk mendeklarasikannya melalui poster di Gelora Bung Karno. Kini saatnya saya menanamkan mimpi di Puncak Gunung Prau sekaligus sebagai saksi bahwa saya akan berusaha untuk meraihnya. “Mahameru I will be there, wait for me”.

My Next Dream: Mahameru!

O iya, kami mendaki Gunung Prau tepat sehari sebelum hari pahlawan, kami tak lupa ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada para pahlawan bangsa yang telah membela negara. “Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2014” semoga perjuangan para pahlawan senantiasa memberikan spirit bagi kita semua untuk menggapai mimpi dan memajukan tanah air Indonesia.

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2014

Sebelum turun ke tempat meeting point dimana Bang Goris dkk sudah menunggu, kami sempat berfoto dengan sekumpulan mas-mas yang secara sengaja membawa kostum teletubbies. Ada-ada saja memang para pendaki saat itu, ada yang melepaskan pakaiannya ditengah-tengah suhu yang dingin, ada yang merekam pesan untuk kekasihnya, dan ada juga yang melakukan levitasi, saya juga termasuk salah satu orang yang melakukan hal tersebut lho.

Bersama para Teletubbies

Jangan lewatkan bergaya bak levitasi

Tepat pukul 06:30 kami sudah diberi komando untuk turun kembali menuju base camp Patak Banteng. Saat itu jalur-jalur ekstrim yang kami lalui baru terlihat. Bagi para pendaki yang sudah terbiasa memang bisa menuruni jalur sambil berlari, tapi bagi pemula seperti saya jangan coba-coba ya karena beberapa jalur cukup terjal dan licin. Saya sempat beberapa kali terpeleset karena tidak mampu mengimbangi tubuh. Supaya trekking pada jalan menurun lebih aman maka ada baiknya mengambil posisi dengan memiringkan kaki tegak lurus terhadap jalur bukan lurus dengan jalur agar semua telapak kaki mampu menahan beban gravitasi dan bukan tertumpu pada jari-jari saja. Hal ini cukup membantu agar tidak terpeleset ketika trekking dengan jalur menurun. Kami tidak khawatir ketika menuruni jalur yang cukup terjal karena Bang Goris dengan sigap memasang tali sebagai alat berpegangan pada setiap jalur yang terjal. Pos III dan Pos II berhasil kami lalui dengan baik meskipun saya sempat beberapa kali menuruni jalur sambil merayap sementara teman-teman yang lain dengan asik berlari-lari kecil pada pijakan yang menurut mereka aman. Beberapa kali juga kami beristirahat untuk minum sambil menikmati panorama Dieng dari pertengahan jalur trekking.

Persiapan turun

Bunga Daisy banyak ditemukan hampir di seluruh hamparan Gunung Prau

Jalur yang cukup ekstrim sebaiknya menggunakan bantuan tali

Para pendaki mulai menuruni bukit

Pemandangan di pertengahan jalan

Salah satu pemandangan di pos pertama menuju pos dua

Perjalanan Turun menuju Patak Banteng

Selama hampir 1.5 jam kami akhirnya tiba di pos pertama, di sana sudah terlihat para petani sedang melakukan panen kentang, beberapa tukang ojeg juga sudah menunggu sambil menawarkan jasanya. Yah, tidak seru dong masa pendaki naik ojeg, begitulah kami saling bercanda sambil berjalan menurun menuju base camp. Lelah hari itu sangat terbayar, pengalaman seru mendaki Gunung Prau akan kami ingat selalu. Dari sini petualangan sebenarnya akan dimulai, menjejakkan kaki pada beberapa puncak gunung di negeri tercinta. In Syaa Allah.

27 Comments

    • Reply

      foto2nya kurang banyak nangkep viewnya mak soalnya kabutnya cukup tebal, mesti nunggu dan siap2 hunting foto pas kabut turun, lha iya itu mak si mas2 ada2 aja, saya aja kaget bisa2nya mereka bawa teletubbies secara naik ke atas bawa diri aja udah susah

  1. Prima Hapsari

    Reply

    waw…asyik ya petualangannya di gunung Prau,berapa hari di Jateng mak, pengen sih naek gunung lagi,tapi nunggu si bocah gedean dikit. Anak2 ditinggal ama siapa Mak?

    • Reply

      cuma dua hari satu malam mak, anak2 sama mbahnya hehe. jangan ditiru ya. saya juga pengennya ngajak Alfi kalo dia sudah besar nanti

  2. Hidayah Sulistiyowati

    Reply

    Asiknyaaa…kangen jalan ke gunung, sayang udh gak berani krn engkel kaki pernah terkilir. Takut aja kambuhan. Eh lucu juga ya teletubis yg in action, niat banget hihiii

    • Reply

      iya itu mak, mas2 ok bisa bawa kostum yg berat itu. naik keatas bawa diri aja udah gak kuat. saya mumpung masih muda mau menyalurkan hobi lama

  3. Reply

    sejak tinggal di wonosobo, sering liat para pendaki yg naik bis ato motor smbil bawa ransel gunung. kepengin sih, apalagi denger pengalaman tetangga/temen2 yg pernah ke G. Prau, sikunir, dan kawasan candi..tp krucils blm bisa dibawa, jadi mentoknya baru nyampe perkebunan teh tambi..:)
    semoga kapan2 bs kesana

  4. fazril

    Reply

    Gunung Prau, rindu pengen kesana lagi lewat Dieng

    keren bu, lengkap nih, bahkan disetiap pos ada fotonya

    ngikut lah next trip saya 😀

  5. Pingback: Petualangan Mahameru: (4) Cemoro Kandang-Kalimati | Evrina Budiastuti

  6. Pingback: ASUS ZenPower, Power Bank Ku | Evrina Budiastuti

  7. Pingback: Jalan-Jalan Ke Dieng Cuma Beli Carica – evventure

Leave a Reply to Hidayah Sulistiyowati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *